Jasa Catering Di Jakarta

Saat puasa ternyata KD juga punya makanan favorit lho, yaitu bubur Madura. Bahkan dia punya sudah punya tempat langganan untuk pesan bubur itu. "Kita selalu pesan ke salah satu catering di Jakarta Selatan. Itu ada lima macam bubur dan santan itu di wadah besar. Kita biasanya sudah order jauh sebelum kita tahu tanggal Ramadan," jelasnya.

Para pecinta kuliner, makanan yang enak tentu menjadi buruan. Namun, terkadang mereka kerap tidak memperdulikan proses pembuatan, bahan-bahan, dan nilai kalori dari makanan yang dikonsumsinya.

Untuk itu, In Fine Catering mengajak pecinta kuliner untuk peduli dengan hidangan yang dimakannya dengan memperkenalkan konsep interaktif "neurogastronomy".

Board of Director In Fine Catering, Siti Radarwati mengatakan, konsep tersebut ingin memanfaatkan seluruh aspek yang dimiliki panca indera, bukan hanya indera perasa dalam menikmati sajian. Tujuannya, kata dia, untuk memicu terciptanya komunikasi antara penikmat kuliner dengan pembuatnya.

"Mereka bisa benar-benar mengerti dan sadar dengan makanan yang dikonsumsinya. Sebut saja bahan makanan, proses memasaknya, cara penyajiannya, hingga kandungan nutrisi dalam makanan tersebut," ungkap dia di sela grand opening dan food tasting In Fine Catering di Jakarta, Kamis (30/4).

Nerva, salah satu pengusaha jasa catering di Jakarta mengatakan, menyiapkan bumbu menjadi salah satu hal yang paling berat ketika memasak untuk katering. Ia harus menyiapkan bumbu sekaligus untuk beberapa kali masak.

"Biasanya persiapan bumbu seminggu sekali. Belanjanya karungan. Belum membuat bumbunya, harus mengupas dulu, memblender, bisa dari pagi sampai maghrib," kata Nerva dalam acara 'Memasak Cepat 10 Ribu Potong Ayam' yang diselenggarakan oleh Royco di Senayan, belum lama ini.

Kini, jalan hidup mengantarkan Nena menjadi pengusaha katering pernikahan berbendera Diva Catering di Jakarta Barat. Perempuan asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, ini tak menyangka bisa membesarkan usaha katering seperti sekarang.

Pertama kali ia meninggalkan kampung halamannya ke Jakarta untuk kuliah di jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Setelah lulus kuliah, ia sempat kembali ke NTB dan bekerja serabutan. Tak pernah ada pekerjaan yang bertahan lama.

Lantas pada akhir 1990-an, ia kembali ke ibukota untuk mengadu nasib. Beberapa bulan pertama, Nena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Maka untuk mengisi waktu luang, ia pun menjual pastel mini. “Waktu itu iseng saja karena saya orangnya tak bisa berdiam diri, harus ada yang dikerjakan,” ucap ibu tiga anak ini.



Write a comment

Comments: 1